Senin, 30 Mei 2016

Surabaya penuh cerita sejarah mulai dari sejarah penyebaran agama islam sampai perjuangan perjuangan kemerdekaan indonesia dari penjajah di hotel yamato.  Dan dimulai dari awal perjuangan Bung Tomo dan dibantu arek-arek jatim atau yang disebut Jong EastJava dimana pemuda ini sangat berjuang demi merebutkan sebuah kemerdekaan indonesia. Di Surabaya juga sebagai kota sejarah penyobekan bendera Belanda arek-arek Jowo Timur pada 10 November 1945 dimana peristiwa ini sangat bersejarah buat arek-arek Suroboyo yaitu usaha arek-arek Jowo Timur dalam penyobekan bendera biru yang ada pada bendera belanda yang berada di Hotel Yamato Surabaya. Pada tahun pejuangan dahulu banyak bertumpah darah dan nyawa arek-arek Jowo Timur dalam perebutan Kemerdekaan Indonesia sendiri dan juga semangat arek-arek Jowo Timur semakin terbakar dengan adanya pidato Bung Tomo. Mereka semakin percaya dengan kemerdekaan ini dengan perjuangan dan do’a mereka berhasil monyobek bendera tersebut. Meskipun harus melewati tembok-tembok pertahanan Belanda yang kuat itu.

(Sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhanXrseETbsrm6B1oGCd-GMq70Y1_LmXZUU7_Kj9J4rR6mVgQtThWnvL8y88Dtlagh71IuDX1gYzR3rbF9u_fm4cVr90XZmROMXKlKgeXgVBa-pxVEjeI_ezJA2Y-mfVwWErbw7wu4eY/s320/5.jpg)


Pada peristiwa ini dikenang sebagai hari pahlawan dimana setiap tahunnya warga Surabaya, Gresik, Sidoarjo berbondong-bondong untuk mendaftarkan gerak jalan Mojokerto ke Surabaya untuk menganang jasa pahlwan yang dahulunya yang telah gugur dimedan perang. Dimana cerita dan kisahnya pada tanggal 10 November 1945 arek-arek Jowo Timur lari dari Surabaya ke Mojokerto bersembunyi melalui lorong bawah tanah agar tidak diketahui kompeni belanda yang diamana disitu ada Bung Tomo yang dilarikan karena telah menadi propokator terjadinya penyobekan bendera Belanda tersebut. Dimana grombolan ini bersembunyi di kerajaan Mojopahit dengan sisa-sisa bangunan untuk bersembunyi dan juga mereka mempersiapkan persenjataan untuk melawan Belanda. Dan perlu diketahui senjata yang digunankan ada bambu runcing hijau yang berada di Mojokerto. Kebetulan juga adalah ketika para rombongan arek-arek Jowo Timur sedang berpuasa senin kamis dan alhamdullillah Bung Tomo mengajak arek-arek untuk sholat Tahajjud dan setelah sholat Bung Tomo mengajak untuk menyerang kembali ke Surabaya demi merebutkan kemerdekaan kembali dengan berjalan kaki sambil bersholawat dan wirit. Dan dengan izin Allah rombongan Bung Tomo berhasil mengalahkan kompeni Belanda hanya dengan bambu runcing saja, sedangkan secara logika persenjataan kompeni Belanda lebih canggih dari rombongan Bung Tomo yang hanya menggunakan bambu runcing saja, tapi karena izin Allah lah dan harapan warga Jawa Timur lah yang membuat mereka berhasil.

Foto miniatur yang berada pada Museum Tugu Pahlawan 
                                                           (Sumber : Foto Penulis)

Mobil kendaraan Bung Tomo di Museum Tugu Pahlawan
                                                           (Sumber : Foto Penulis)


Makan pahlawan yang tidak dikenal berada pada depan Hi-Tech Mall Surabaya
                                                            (Sumber : Foto Penulis)

Patung Bung Tomo pada depan Museum Tugu Pahlawan Surabaya
                                                            (Sumber : Foto Penulis)

Patung Ir.Seokarno dan Bung Hatta di pintu masuk Museum Tugu Pahlawan
                                                            (Sumber : Foto Penulis)

Senjata belanda untuk menyerang arek jawa timur yang di Museum Tugu Pahlawan Surabaya
                                                           (Sumber : Foto Penulis)


Pada 10 November lah diperingati hari pahlwan dan diadakan gerak jalan dari mojokerto surabaya. Dimana tua muda pria atau wanita mereka ikut ada yang individu kelompok dan ada juga ada yang bersepeda. Akan tetapi memakai sepeda yang digunakan adalah sepeda yang antik atau sepeda onta.

Dan disinilah awal sebuah cerita untuk kenangan. Dan di sejarah tersebut saya sebagai penulis yang dahulu waktu sekolah SMK di undang oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk OSIS se-Jatim untuk mengetahui sejarah-sejarah di Jawa Timur mulai dari ujung sampai ke ujung jatim pun diperkanalkan yang tidak diduga. Disanalah awal dimana saya memiliki banyak saudara yang mencintai sejarah yang ada di Jatim. Dan juga ketika saya mengikuti seminar dan wawasan sejarah ini dihadiri Gubenur Jatim yaitu Pakde Karwo yang dimana beliau yang mengingikan acara ini dan berkelanjutan untuk Jawa Timur ini.

Pada disinilah awal cerita sebuah cinta yang tidak bisa diungkapkan hanya melalui tempat sejarah sajalah yang bisa terungkap



Semoga bacaan ini sangat bermanfaat dan maaf jika ada ungkapan hati sedikit oleh sang penulis.