Surabaya penuh cerita
sejarah mulai dari sejarah penyebaran agama islam sampai perjuangan perjuangan
kemerdekaan indonesia dari penjajah di hotel yamato. Dan dimulai dari awal perjuangan Bung Tomo
dan dibantu arek-arek jatim atau yang disebut Jong EastJava dimana pemuda ini
sangat berjuang demi merebutkan sebuah kemerdekaan indonesia. Di Surabaya juga
sebagai kota sejarah penyobekan bendera Belanda arek-arek Jowo Timur pada 10
November 1945 dimana peristiwa ini sangat bersejarah buat arek-arek Suroboyo
yaitu usaha arek-arek Jowo Timur dalam penyobekan bendera biru yang ada pada
bendera belanda yang berada di Hotel Yamato Surabaya. Pada tahun pejuangan dahulu
banyak bertumpah darah dan nyawa arek-arek Jowo Timur dalam perebutan Kemerdekaan
Indonesia sendiri dan juga semangat arek-arek Jowo Timur semakin terbakar
dengan adanya pidato Bung Tomo. Mereka semakin percaya dengan kemerdekaan ini
dengan perjuangan dan do’a mereka berhasil monyobek bendera tersebut. Meskipun harus
melewati tembok-tembok pertahanan Belanda yang kuat itu.
(Sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhanXrseETbsrm6B1oGCd-GMq70Y1_LmXZUU7_Kj9J4rR6mVgQtThWnvL8y88Dtlagh71IuDX1gYzR3rbF9u_fm4cVr90XZmROMXKlKgeXgVBa-pxVEjeI_ezJA2Y-mfVwWErbw7wu4eY/s320/5.jpg)
Pada peristiwa ini
dikenang sebagai hari pahlawan dimana setiap tahunnya warga Surabaya, Gresik,
Sidoarjo berbondong-bondong untuk mendaftarkan gerak jalan Mojokerto ke
Surabaya untuk menganang jasa pahlwan yang dahulunya yang telah gugur dimedan
perang. Dimana cerita dan kisahnya pada tanggal 10 November 1945 arek-arek Jowo
Timur lari dari Surabaya ke Mojokerto bersembunyi melalui lorong bawah tanah
agar tidak diketahui kompeni belanda yang diamana disitu ada Bung Tomo yang
dilarikan karena telah menadi propokator terjadinya penyobekan bendera Belanda tersebut.
Dimana grombolan ini bersembunyi di kerajaan Mojopahit dengan sisa-sisa
bangunan untuk bersembunyi dan juga mereka mempersiapkan persenjataan untuk
melawan Belanda. Dan perlu diketahui senjata yang digunankan ada bambu runcing
hijau yang berada di Mojokerto. Kebetulan juga adalah ketika para rombongan
arek-arek Jowo Timur sedang berpuasa senin kamis dan alhamdullillah Bung Tomo
mengajak arek-arek untuk sholat Tahajjud dan setelah sholat Bung Tomo mengajak
untuk menyerang kembali ke Surabaya demi merebutkan kemerdekaan kembali dengan
berjalan kaki sambil bersholawat dan wirit. Dan dengan izin Allah rombongan Bung
Tomo berhasil mengalahkan kompeni Belanda hanya dengan bambu runcing saja,
sedangkan secara logika persenjataan kompeni Belanda lebih canggih dari
rombongan Bung Tomo yang hanya menggunakan bambu runcing saja, tapi karena izin
Allah lah dan harapan warga Jawa Timur lah yang membuat mereka berhasil.
Foto miniatur yang berada pada Museum Tugu Pahlawan
(Sumber : Foto Penulis)Mobil kendaraan Bung Tomo di Museum Tugu Pahlawan
(Sumber : Foto Penulis)
Makan pahlawan yang tidak dikenal berada pada depan Hi-Tech Mall Surabaya
(Sumber : Foto Penulis)
Patung Bung Tomo pada depan Museum Tugu Pahlawan Surabaya
(Sumber : Foto Penulis)
Patung Ir.Seokarno dan Bung Hatta di pintu masuk Museum Tugu Pahlawan
(Sumber : Foto Penulis)
Senjata belanda untuk menyerang arek jawa timur yang di Museum Tugu Pahlawan Surabaya
(Sumber : Foto Penulis)
Pada 10 November lah
diperingati hari pahlwan dan diadakan gerak jalan dari mojokerto surabaya. Dimana
tua muda pria atau wanita mereka ikut ada yang individu kelompok dan ada juga
ada yang bersepeda. Akan tetapi memakai sepeda yang digunakan adalah sepeda
yang antik atau sepeda onta.
Dan disinilah awal sebuah
cerita untuk kenangan. Dan di sejarah tersebut saya sebagai penulis yang dahulu
waktu sekolah SMK di undang oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk OSIS
se-Jatim untuk mengetahui sejarah-sejarah di Jawa Timur mulai dari ujung sampai
ke ujung jatim pun diperkanalkan yang tidak diduga. Disanalah awal dimana saya
memiliki banyak saudara yang mencintai sejarah yang ada di Jatim. Dan juga
ketika saya mengikuti seminar dan wawasan sejarah ini dihadiri Gubenur Jatim
yaitu Pakde Karwo yang dimana beliau yang mengingikan acara ini dan
berkelanjutan untuk Jawa Timur ini.
Pada disinilah awal
cerita sebuah cinta yang tidak bisa diungkapkan hanya melalui tempat sejarah
sajalah yang bisa terungkap
Semoga bacaan ini sangat
bermanfaat dan maaf jika ada ungkapan hati sedikit oleh sang penulis.






